Lissa dan Umi tengah sibuk mengupas kulit bawang putih di antara gang-gang sempit di dalam los Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Sabtu (18/7/2026). Mereka menggunakan pisau kecil sebagai perlengkapan untuk mengupas bawang putih milik juragan. Dua jari mereka menggunakan karet pelindung ketika mengupas.
”Pakai karet biar tidak tergores pisau,” ujar Lissa, warga perantauan asal Pacitan, Jawa Timur.
Bawang dikupas agar terlihat bersih. Kulit hasil kupasan mereka simpan di karung yang berbeda. ”Lumayan, sekarung kulit bawang putih yang beratnya sekitar 1 kilogram ini bisa laku Rp 5.000,” kata Umi.
Keduanya bekerja sebagai buruh lepas pengupas bawang putih milik pedagang grosir di Pasar Induk Kramat Jati. Upah mereka dihitung berdasarkan jumlah karung yang berhasil dikupas. Setiap karung berbobot sekitar 20 kilogram dihargai Rp 15.000.
Dalam sehari, mereka mampu menyelesaikan empat hingga enam karung. Artinya, penghasilan yang dibawa pulang berkisar Rp 60.000 hingga Rp 90.000 per hari jika pekerjaan sedang ramai. Aktivitas itu mereka jalani sejak pukul 08.00 hingga pukul 18.00. ”Kami sudah seperti pegawai kantoran, kantor di pasar induk,” kelakar Umi, sambil jari-jarinya terus sibuk mengupas bawang.



Pon mengupas bawang putih di Pasar Induk Kramat Jati.
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Ia diupah Rp 15.000 per 20 kg bawang putih yang berhasil dikupas.
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Di tingkat pengecer, harga bawang putih sudah mencapai Rp 45.000 per kg. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Namun, di balik rutinitas tersebut, harga komoditas impor itu justru tengah mengalami kenaikan di sejumlah daerah.
Berdasarkan data BPS, per pekan kedua Juli 2026, harga rerata nasional bawang putih tembus Rp 42.611 per kg, naik 5,07 persen dibandingkan dengan Juni 2026. Harga tersebut juga masih di atas harga acuan penjualan (HAP) bawang putih di tingkat konsumen, yakni Rp 38.000-Rp 40.000 per kg tergantung wilayah.
Sebanyak 269 kabupaten/kota atau 74,72 persen wilayah Indonesia mengalami kenaikan harga bawang putih. Harga tertinggi tercatat di Papua Pegunungan yang tembus Rp 100.000 per kg.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, lonjakan harga bawang putih impor disebabkan oleh pelemahan rupiah dan kenaikan biaya logistik global. Dari sisi pasokan, impor bawang putih justru meningkat. Volume impor bawang putih pada Januari-Juni 2026 sebanyak 229.760 ton atau meningkat 28,44 persen secara tahunan. Impor itu didominasi bawang putih segar yang sebesar 96,83 persen.

”Impor bawang putih terbanyak berasal dari China. Hanya sebagian kecil yang berasal dari India,” katanya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri secara hibrida di Jakarta.
Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Direktorat Jenderal Kementerian Perdagangan (Kemendag) Nawandaru Dwi Putra berpendapat senada. Kenaikan harga bawang putih impor disebabkan oleh pelemahan rupiah dan tingginya harga komoditas itu di China. Selain itu, ada pengaruh kenaikan biaya logistik. Untuk meredam kenaikan harga, Kemendag meminta importir tetap merealisasikan impor komoditas itu. Kemendag juga meminta mereka mengarahkan kapal pengangkut bawang putih impor ke pelabuhan utama di kawasan timur Indonesia (Kompas, 15/7/2026).

Di tengah dinamika harga yang tak kunjung turun, buruh-buruh seperti Lissa dan Umi tetap menekuni pekerjaan mereka. Jemari yang cekatan mengupas bawang menjadi pengingat bahwa di balik setiap kilogram bawang putih yang sampai ke dapur masyarakat, ada andil kerja mereka yang menghabiskan hari-harinya di sudut-sudut Pasar Induk Kramat Jati.
Lissa dan Umi tengah sibuk mengupas kulit bawang putih di antara gang-gang sempit di dalam los Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Sabtu (18/7/2026). Mereka menggunakan pisau kecil sebagai perlengkapan untuk mengupas bawang putih milik juragan. Dua jari mereka menggunakan karet pelindung ketika mengupas.
”Pakai karet biar tidak tergores pisau,” ujar Lissa, warga perantauan asal Pacitan, Jawa Timur.

Bawang dikupas agar terlihat bersih. Kulit hasil kupasan mereka simpan di karung yang berbeda. ”Lumayan, sekarung kulit bawang putih yang beratnya sekitar 1 kilogram ini bisa laku Rp 5.000,” kata Umi.
Keduanya bekerja sebagai buruh lepas pengupas bawang putih milik pedagang grosir di Pasar Induk Kramat Jati. Upah mereka dihitung berdasarkan jumlah karung yang berhasil dikupas. Setiap karung berbobot sekitar 20 kilogram dihargai Rp 15.000.
Dalam sehari, mereka mampu menyelesaikan empat hingga enam karung. Artinya, penghasilan yang dibawa pulang berkisar Rp 60.000 hingga Rp 90.000 per hari jika pekerjaan sedang ramai. Aktivitas itu mereka jalani sejak pukul 08.00 hingga pukul 18.00. ”Kami sudah seperti pegawai kantoran, kantor di pasar induk,” kelakar Umi, sambil jari-jarinya terus sibuk mengupas bawang.



Pon mengupas bawang putih di Pasar Induk Kramat Jati.
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Ia diupah Rp 15.000 per 20 kg bawang putih yang berhasil dikupas.
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Di tingkat pengecer, harga bawang putih sudah mencapai Rp 45.000 per kg. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Namun, di balik rutinitas tersebut, harga komoditas impor itu justru tengah mengalami kenaikan di sejumlah daerah.
Berdasarkan data BPS, per pekan kedua Juli 2026, harga rerata nasional bawang putih tembus Rp 42.611 per kg, naik 5,07 persen dibandingkan dengan Juni 2026. Harga tersebut juga masih di atas harga acuan penjualan (HAP) bawang putih di tingkat konsumen, yakni Rp 38.000-Rp 40.000 per kg tergantung wilayah.
Sebanyak 269 kabupaten/kota atau 74,72 persen wilayah Indonesia mengalami kenaikan harga bawang putih. Harga tertinggi tercatat di Papua Pegunungan yang tembus Rp 100.000 per kg.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, lonjakan harga bawang putih impor disebabkan oleh pelemahan rupiah dan kenaikan biaya logistik global. Dari sisi pasokan, impor bawang putih justru meningkat. Volume impor bawang putih pada Januari-Juni 2026 sebanyak 229.760 ton atau meningkat 28,44 persen secara tahunan. Impor itu didominasi bawang putih segar yang sebesar 96,83 persen.

”Impor bawang putih terbanyak berasal dari China. Hanya sebagian kecil yang berasal dari India,” katanya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri secara hibrida di Jakarta.
Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Direktorat Jenderal Kementerian Perdagangan (Kemendag) Nawandaru Dwi Putra berpendapat senada. Kenaikan harga bawang putih impor disebabkan oleh pelemahan rupiah dan tingginya harga komoditas itu di China. Selain itu, ada pengaruh kenaikan biaya logistik. Untuk meredam kenaikan harga, Kemendag meminta importir tetap merealisasikan impor komoditas itu. Kemendag juga meminta mereka mengarahkan kapal pengangkut bawang putih impor ke pelabuhan utama di kawasan timur Indonesia (Kompas, 15/7/2026).

Di tengah dinamika harga yang tak kunjung turun, buruh-buruh seperti Lissa dan Umi tetap menekuni pekerjaan mereka. Jemari yang cekatan mengupas bawang menjadi pengingat bahwa di balik setiap kilogram bawang putih yang sampai ke dapur masyarakat, ada andil kerja mereka yang menghabiskan hari-harinya di sudut-sudut Pasar Induk Kramat Jati.

Leave a comment