Pembangunan fasilitas pusat data tumbuh pesat di sejumlah kota di dunia. Hal ini memicu lonjakan penggunaan listrik dan air guna memenuhi kebutuhan fasilitas itu. Puluhan wali kota di dunia bekerja sama untuk meredam dampak negatif tersebut.
Sebanyak 40 wali kota di dunia, termasuk London (Inggris), Phoenix (Amerika Serikat), dan Melbourne (Australia), sepakat bekerja sama mengurangi tekanan pasokan listrik dan air di tengah masifnya pertumbuhan pusat data. Kerja sama dijalin melalui Pakta Pusat Data Perkotaan Global yang diluncurkan pada Pekan Aksi Iklim London, Selasa (23/6/2026).
”Kerja sama ini bertujuan menetapkan standar guna memastikan pusat data menggunakan energi bersih dan semua sumber daya secara lebih efisien serta lebih terintegrasi ke dalam perencanaan kota,” ujar Wali Kota Phoenix Kate Gallego.
Pembangunan pusat data di beberapa kota besar meningkat seiring perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI). Fasilitas ini membutuhkan listrik dan air dalam jumlah besar untuk beroperasi tanpa henti. Hal itu dikhawatirkan mengganggu kebutuhan masyarakat.
Pusat data memerlukan daya listrik yang sangat besar untuk mengoperasikan server, jaringan, dan menyalakan sistem cadangan. Pemakaian listrik secara masif juga dibutuhkan untuk menyalakan sistem pendingin secara terus-menerus agar server tidak mengalami panas berlebih atau overheating.
Sementara cooling tower atau menara pendingin membutuhkan air dalam jumlah besar untuk menyerap dan membuang panas perangkat melalui proses penguapan. Pusat data skala besar bisa menghabiskan jutaan liter air per hari, terutama di wilayah dengan suhu yang panas.

Gallego mengatakan, kota Phoenix dan sekitarnya memiliki 225 pusat data yang sudah beroperasi dan sedang direncanakan. Kondisi ini telah menggandakan permintaan kebutuhan listrik di kota tersebut.
Utilitas yang mengalami permintaan stabil selama beberapa dekade mengalami pertumbuhan hanya dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini sebagian besar didorong oleh kebutuhan komputasi terkait AI. Permintaan listrik seperti saat ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
”Hal ini telah memicu perselisihan yang berkaitan dengan kebisingan, penggunaan lahan, dan risiko keselamatan dari penyimpanan baterai, di samping kekhawatiran yang lebih luas tentang pembangunan infrastruktur di lingkungan perumahan,” ujarnya.
Pusat data adalah hal terbesar yang menghantam jaringan energi sejak pendingin udara pada 1950-an. Peluncuran pendingin udara membutuhkan waktu puluhan tahun, tetapi ini (pusat data) terjadi hanya dalam beberapa tahun.
Wali Kota Melbourne Nicholas Reece menyebutkan, sekitar 50 pusat data utama sudah beroperasi di kota tersebut. Kebutuhan listrik fasilitas itu diproyeksikan akan menyumbang sekitar 10 persen dari permintaan daya lokal pada 2030 dan meningkat menjadi 20 persen pada 2040.
”Pusat data adalah hal terbesar yang menghantam jaringan energi sejak pendingin udara pada 1950-an. Peluncuran pendingin udara membutuhkan waktu puluhan tahun, tetapi ini (pusat data) terjadi hanya dalam beberapa tahun,” katanya.
Pusat-pusat data tersebut dapat menghabiskan sekitar 20 miliar liter air per tahun. Jumlah itu setara dengan 4 persen dari pasokan air minum kota sehingga memberikan tekanan terhadap kebutuhan masyarakat.

Perlombaan kota pintar
Reece mengatakan, investasi fasilitas pusat data terjadi dengan kecepatan luar biasa. Alhasil, kota-kota di dunia berisiko berlomba menawarkan harga terendah untuk bersaing menarik investor.
Namun, hal itu terkadang mengabaikan pengawasan lingkungan. ”Dalam perlombaan untuk menjadi kota pintar, kita tidak ingin merusak planet ini,” katanya.
Sementara Wali Kota London Sadiq Khan mengatakan, AI dan infrastruktur digital akan memainkan peran utama dalam kemakmuran masa depan kota-kota di seluruh dunia. Namun, penduduk kota juga berhak mengharapkan pertumbuhan yang dikelola secara bertanggung jawab.

Menurut Forum Ekonomi Dunia, pusat data menyumbang 2,5-3,7 persen emisi gas rumah kaca global, lebih tinggi dari sektor penerbangan. Permintaan listrik fasilitas ini meningkat lebih cepat daripada konsumsi daya secara keseluruhan.
Penerapan standar penggunaan listrik dan air untuk pusat data akan disesuaikan dengan kondisi kota masing-masing. Sebab, faktor suhu wilayah juga berpengaruh terhadap energi yang digunakan. Kebutuhan pendingin di Eslandia yang dekat dengan Kutub Utara berbeda dengan di Filipina yang beriklim tropis. (REUTERS)
Pembangunan fasilitas pusat data tumbuh pesat di sejumlah kota di dunia. Hal ini memicu lonjakan penggunaan listrik dan air guna memenuhi kebutuhan fasilitas itu. Puluhan wali kota di dunia bekerja sama untuk meredam dampak negatif tersebut.
Sebanyak 40 wali kota di dunia, termasuk London (Inggris), Phoenix (Amerika Serikat), dan Melbourne (Australia), sepakat bekerja sama mengurangi tekanan pasokan listrik dan air di tengah masifnya pertumbuhan pusat data. Kerja sama dijalin melalui Pakta Pusat Data Perkotaan Global yang diluncurkan pada Pekan Aksi Iklim London, Selasa (23/6/2026).
”Kerja sama ini bertujuan menetapkan standar guna memastikan pusat data menggunakan energi bersih dan semua sumber daya secara lebih efisien serta lebih terintegrasi ke dalam perencanaan kota,” ujar Wali Kota Phoenix Kate Gallego.

Pembangunan pusat data di beberapa kota besar meningkat seiring perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI). Fasilitas ini membutuhkan listrik dan air dalam jumlah besar untuk beroperasi tanpa henti. Hal itu dikhawatirkan mengganggu kebutuhan masyarakat.
Baca JugaProspek Cerah Bisnis Pusat Data di Indonesia
Pusat data memerlukan daya listrik yang sangat besar untuk mengoperasikan server, jaringan, dan menyalakan sistem cadangan. Pemakaian listrik secara masif juga dibutuhkan untuk menyalakan sistem pendingin secara terus-menerus agar server tidak mengalami panas berlebih atau overheating.
Sementara cooling tower atau menara pendingin membutuhkan air dalam jumlah besar untuk menyerap dan membuang panas perangkat melalui proses penguapan. Pusat data skala besar bisa menghabiskan jutaan liter air per hari, terutama di wilayah dengan suhu yang panas.

Gallego mengatakan, kota Phoenix dan sekitarnya memiliki 225 pusat data yang sudah beroperasi dan sedang direncanakan. Kondisi ini telah menggandakan permintaan kebutuhan listrik di kota tersebut.
Utilitas yang mengalami permintaan stabil selama beberapa dekade mengalami pertumbuhan hanya dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini sebagian besar didorong oleh kebutuhan komputasi terkait AI. Permintaan listrik seperti saat ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
”Hal ini telah memicu perselisihan yang berkaitan dengan kebisingan, penggunaan lahan, dan risiko keselamatan dari penyimpanan baterai, di samping kekhawatiran yang lebih luas tentang pembangunan infrastruktur di lingkungan perumahan,” ujarnya.
Pusat data adalah hal terbesar yang menghantam jaringan energi sejak pendingin udara pada 1950-an. Peluncuran pendingin udara membutuhkan waktu puluhan tahun, tetapi ini (pusat data) terjadi hanya dalam beberapa tahun.
Wali Kota Melbourne Nicholas Reece menyebutkan, sekitar 50 pusat data utama sudah beroperasi di kota tersebut. Kebutuhan listrik fasilitas itu diproyeksikan akan menyumbang sekitar 10 persen dari permintaan daya lokal pada 2030 dan meningkat menjadi 20 persen pada 2040.
Baca JugaMaraknya Pusat Data Dongkrak Kebutuhan Listrik
”Pusat data adalah hal terbesar yang menghantam jaringan energi sejak pendingin udara pada 1950-an. Peluncuran pendingin udara membutuhkan waktu puluhan tahun, tetapi ini (pusat data) terjadi hanya dalam beberapa tahun,” katanya.
Pusat-pusat data tersebut dapat menghabiskan sekitar 20 miliar liter air per tahun. Jumlah itu setara dengan 4 persen dari pasokan air minum kota sehingga memberikan tekanan terhadap kebutuhan masyarakat.

Perlombaan kota pintar
Reece mengatakan, investasi fasilitas pusat data terjadi dengan kecepatan luar biasa. Alhasil, kota-kota di dunia berisiko berlomba menawarkan harga terendah untuk bersaing menarik investor.
Namun, hal itu terkadang mengabaikan pengawasan lingkungan. ”Dalam perlombaan untuk menjadi kota pintar, kita tidak ingin merusak planet ini,” katanya.
Baca JugaFasilitas Pusat Data Tumbuh Pesat, Risiko Pasokan Listrik dan Air Mengintai
Sementara Wali Kota London Sadiq Khan mengatakan, AI dan infrastruktur digital akan memainkan peran utama dalam kemakmuran masa depan kota-kota di seluruh dunia. Namun, penduduk kota juga berhak mengharapkan pertumbuhan yang dikelola secara bertanggung jawab.

Menurut Forum Ekonomi Dunia, pusat data menyumbang 2,5-3,7 persen emisi gas rumah kaca global, lebih tinggi dari sektor penerbangan. Permintaan listrik fasilitas ini meningkat lebih cepat daripada konsumsi daya secara keseluruhan.
Penerapan standar penggunaan listrik dan air untuk pusat data akan disesuaikan dengan kondisi kota masing-masing. Sebab, faktor suhu wilayah juga berpengaruh terhadap energi yang digunakan. Kebutuhan pendingin di Eslandia yang dekat dengan Kutub Utara berbeda dengan di Filipina yang beriklim tropis. (REUTERS)

Leave a comment